Sulawesi Selatan
Untuk memperoleh gambaran dan pengetahuan yang lebih luas, tidak ada buruknya, bahkan mungkin sangat besar faedahnya jikalau kita mengetahui beberapa hal tentang Sulawesi Selatan pada umum¬nya dan Kerajaan Gowa khususnya. Seperti diketahui, Sultan Hasanudin adalah raja Gowa yang keenambelas.
Jikalau kita melihat peta tanah-air kita, maka di antara Pulau-pulau Sunda Besar tampak sebuah pulau yang betuknya hampir me¬nyerupai bentuk sebuah huruf “K”, yaitu Pulau Sulawesi. Pulau ini mempunyai empat buah jazirah, yakni: Jazirah Utara, Jazirah Timur Laut, Jazirah Tenggara dan Jazirah Barat Daya.
Jazirah Barat Daya dan Jazirah Tenggara serta pulau-pulau di sekitarnya dahulu termasuk Propinsi atau Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dan Tenggara. Kemudian wilayah ini dipisah menjadi dua bagian atau dua propinsi, yakni: Propinsi Sulawesi Selatan dengan ibukotanya Makassar atau Ujung Pandang dan Propinsi Sulawesi Tenggara dengan ibukotanya Kendari.
Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanudin terletak di ujung selatan Jazirah barat daya Pulau Sulawesi. Jikalau kita memperhatikan letak Pulau Sulawesi dan letak Kerajaan Gowa khususnya, maka dapatlah kita melihat betapa baik dan betapa strategisnya letak Kerajaan Gowa ini.
Kerajaan Gowa dan ibukotanya yang terkenal de¬ngan nama Sombaopu terletak di pantai Selat Makassar. Selat inilah yang memisahkan Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan. Di Selat Makassar inilah letak kerajaan yang tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Kutai. Seperti diketahui, Kerajaan Kutai terletak di tepi aliran Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Selat Makasaar sejak dahulu kala, yakni sejak zaman pemerintahan raja Mulawarman dari Kerajaan Kutai (abad kelima Masehi), sudah menjadi lalu-lintas perdagangan yang terkenal. Sudah sejak abad kelima Masehi Selat Makasar ramai dilalui oleh orang-orang baik dari dalam maupun luar negeri. Sudah sejak abad kelima di Selat Makassar terdapat Kerajaan yang ramai dan makmur keadaannya.
Kemudian di Selat Makassar muncul Kerajaan Gowa, Kerajaan ini terletak di tengah-tengah lalu lintas pelayaran dan perdagangan yang rarnai antara Nusantara bagian barat dan Nusantara bagian timur. Kerajaan Gowa menjadi pusat perhubungan antara Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, bahkan Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka di se¬belah barat dengan Kepulauan Maluku dan Kepulauan Nusa Tenggara di sebelah timur. Seperti diketahui, pada abad ketujuh belas, kepulauan Maluku merupakan tujuan utama dari pada kedatangan pedagang-pedagang asing, terutama orang-orang Belanda (VOC) yang dihing¬gapi demam rempah-rempah. Di Kepulauan Maluku rempah-rempah melimpah-ruah.
Seperti diketahui rakyat Sulawesi Selatan seperti orang-orang Bugis, orang-orang Makassar dan orang-orang Mandar pada umumnya berjiwa pelaut. Mereka terkenal sebagai pelaut-pelaut yang ulung dan gagah berani. Dengan perahu-perahu layarnya yang lincah dan laju mereka mengarungi lautan. Mereka berlayar menghubungkan negeri yang satu dengan negeri yang lain di daerah Sulawesi-Selatan sendiri. Mereka lazimnya membawa hasil bumi, terutama beras dan barang-barang dengan lainnya. Mereka juga menjelajah lautan Nusantara dan mengunjungi negeri-negeri yang jauh seperti: Pulau-pulau Maluku dan Nusa Tenggara di sebelah timur, bahkan sampai ke Pulau Timor dan Australia bagian utara.
Menurut penelitian para ahli bahkan sudah sejak zaman prasejarah telah ada hubungan antara Sulawesi Selatan dan Australia bagian utara. Pelaut-pelaut penangkap teripang dari Sulawesi Selatan sudah sejak zaman dahulu sampai ke pantai utara Benua Australia.
Di sebelah barat Pulau Kalimantan, Pulau Jawa dan Pulau Sumatera dicapai pula oleh pelaut-pelaut yang ulung dan gagah berani ini. Perahu-perahu layar mereka yang besar disebut “pinisi“, yang lebih keeil lagi disebut “lambo” dan ada lagi berbagai jenis lainnya. Dengan perahu-perahu layarnya yang lincah dan laju itulah mereka mengarungi lautan dan samudra yang luas membawa barang-barang dagangan seperti beras, kayu, rempah-rempah yang sangat diperlu¬kan dan lain-lain.
Pelaut-pelaut Sulawesi-Selatan yang ulung dan gagah-berani itu tidak gentar mengarungi lautan-lautan yang jauh menghadapi ombak dan badai yangdahsyat serta penlmpok-perampok dan bajak laut¬bajak laut yang kejam. Dengan perahu-perahu layarnya yang lincah dan laju, pelaut-pelaut Sulawesi Selatan ini bahkan sampai ke Negeri-¬negeri Sulu, Mindanao, Siam, Hongkong, Makao, Malaka, Kalikut di India, dan juga bukan tidak mungkin sampai ke Pulau Madagaskar dan pantai timur Benua Afrika.
Tradisi yang terbawa oleh keadaan alam tanah airnya dan baha¬ya-bahaya yang sering mengancam di lautan menempa jiwa rakyat Sulawesi Selatan menjadi pelaut-pelaut yang ulung dan gagah berani. Mereka menjadi pelaut dan pedagang yang ulet serta tekun. Mereka senantiasa percaya kepada kemampuan yang ada pada diri mereka.
Jikalau Indonesia terkenal sebagai negara ribuan pulau yang berserakan dengan kebudayaannya yang beraneka ragam, maka keanekaragaman itu tampak dengan jelas di Sulawesi. Di Jazirah Barat Daya saja tinggal bermacam-macam suku bangsa. Tiap-tiap suku bangsa itu mempunyai bahasa daerah, adat-istiadat dan kesenian sendiri-sendiri. Di Jazirah Barat Daya tinggal antara lain suku Bugis, suku Makassar, suku Mandar dan suku Toraja.
Di Sulawesi-Selatan terdapat banyak kerajaan besar maupun kecil. Kerajaan-kerajaan yang terbesar dan terpenting ialah:
• Kerajaan Gowa. Rajanya disebut Sombaya artinya (raja) yang disembah.
• Kerajaan Luwu. Rajanya disebut Mappajunge atau Pajunge artinya (raja) yang berpayung.
• Kerajaan Bone. Rajanya disebut Mangkau’e artinya (raja) yang bertakhta memerintah.
Demikianlah di Sulawesi Selatan kita mengenali tiga orang raja yang terbesar dan terpenting, yakni Sombaya Ri Gowa (artinya yang disembah di Gowa), Pajunge Ri Luwu’ (artinya yang berpayung di Luwu) dan Mangkau’e Ri Bone (artinya yang bertahta atau yang memerintah di Bone). Selain ketiga kerajaan tersebut di Sulawesi Selatan masih banyak kerajaan yang merupakan swapraja-swapraja atau daerah-daerah yang berpemerintahan sendiri. Daerah-daerah itu mempunyai kepala-kepala atau raja-raja sendiri. Raja-raja ini biasanya memerintah dengan bebas di daerah masing-masing. Mereka tidak takluk atau menggantungkan diri pada ketiga atau salah satu dari ke¬tiga kerajaan yang disebutkan tadi (Gowa, Luwu atau Bone). Diantara kerajaan-kerajaan itu terdapat antara lain: Kerajaan Soppeng, Kerajaan Wajo, Kerajaan Tanete, Kerajaan Barru dan lain¬lain.
Selain itu, terdapat pula federasi-federasi atau gabungan-gabung¬an beberapa kerajaan seperti: Ajatappareng atau lengkapnya Lima Ajatappareng yang berarti lima(kerajaan) di sebelah barat danau (tappareng = danau). Federasi atau gabungan kerajaan ini terdiri dari: Kerajaan Sawitto, Kerajaan Sidenreng, Kerajaan Suppa, Kerajaan Mallusetasi’ dan Kerajaan Rappang. Federasi Massenrempulu’ yang berarti kerajaan-kerajaan di sekitar atau yang mengitari gunung. Federasi atau gabungan kerajaan ini terdiri atas Kerajaan Enrekang, Kerajaan Maiwa, Kerajaan Malluwa, Keraja¬an AlIa’ dan Kerajaan Bonobatu.
Jikalau Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo merupakan kerajaan orang-orang suku Makasar, maka Kerajaan Luwu, Kerajaan Bone, Kerajaan Soppeng, Kerajaan Wajo, Kerajaan Tanete, Kerajaan Sawitto dan lain-lain merupakan kerajaan orang-orang suku Bugis. Demikian pula terdapat kerajaan-kerajaan orang-orang suku Mandar seperti: Kerajaan Balanipa, Kerajaan Binuang, Kerajaan Campalagiang, Kerajaan Pambuang, Kerajaan Cenrana, Kerajaan Tapalang dan Kerajaan Mamuju. Raja-raja orang Mandar disebut “Maraddia“. Jadi ada Maraddia Balanipa, Maraddia Campalagiang, Maraddia Mamuju dan lain-lain.
Raja-raja orang Makassar disebut “karaeng” sedangkan raja-raja suku bugis disebut “aru” atau “arung”. Disamping kerajaan-kerajaan suku Makassar, suku Bugis dan Mandar, terdapat pula kerajaan-kerajaan orang-orang suku Toraja, misalnya : Kerajaan Makale, Kerajaan Sangalla dan Kerajaan Mengkendek. Singkatnya, di sulawesi selatan terdapat amat banyak kerajaan.
About this entry
You’re currently reading “Sulawesi Selatan,” an entry on Sejarah Kesultanan Gowa
- Telah Diterbitkan:
- Desember 6, 2008 / 12:28 am
- Kategori:
- sejarah gowa
- Kaitkata:
- kesultanan gowa, sulawesi selatan
3 Komentar
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]