Sistem Pemerintahan Kerajaan Gowa (2)
Dalam menjalankan pemerintahan raja Gowa dibantu oleh beberapa orang pembesar atau pejabat kerajaan, antara lain: :
1. Pabbicara butta. Arti sebenamya, ialah juru bicara tanah atau juru bicara negeri.
2. Tumailalalang Towa (tu = orang; ilalang = dalam; towa = tua).
3. Tumailalang-Iolo (Tu = orang; ilalang = dalam; lolo = muda).
Di samping itu raja Gowa dibantu oleh sebuah lembaga “perwakilan rakyat” yang disebut “Bate Salapanga” (bate = panji, bendera; salapang = sembilan). Jadi bate salapanga berarti pemegang bendera atau pembawa panji yang sembilan orang. Mula-mula lembaga ini disebut “Kasuwiang Salapanga” (kasuwiang = mengabdi; salapang = sembilan). Jadi kasuwiang salapanga berati pengabdi yang sembilan orang. Lembaga “kasuwiang salapanga” yang kemudian menjadi “bate salapanga” ini memang terdiri atas sembilan orang anggota.
Keterangan lebih lanjut tentang para pembantu raja ini sebagai berikut:
1. Pabbicara butta adalah orang kedua sesudah raja Gowa. Jadi jabatan pabbicara butta dapat disamakan dengan perdana menteri, mahapatih atau mangkubumi Kerajaan Gowa. Seperti kita ketahui di dalam Sejarah Gowa, pada masa pemerin¬tahan raja Gowa yang ke-9 bemama Tumapa’risi Kallonna, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo disatupadukan kembali. Penyatuan kedua Kerajaan itu dikuatkan oleh ucapan sumpah raja-raja dan para pem¬besar kedua kerajaan itu. Sumpah itu di dalam bahasa Makasar ber¬bunyi: “Ia Iannamo Tau Ampassi Ewai Gowa-Tallo Iamo Nacalla Re¬wata”. artinya: “Siapa-siapa saja yang mengadudomba Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo, maka orang itu akan dikutuk oleh dewata”.
Sejak itulah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo, terutama dalam hubungan keluar, merupakan satu kerajaan yang bersatu. Betapa kokoh¬nya perpaduan antara kedua kerajaan bersaudara itu dapat kita lihat dalam ungkapan bahasa Makasar: “Rua Karaeng Se’re Ata”, artinya: “Dua raja namun satu hamba”. Maksudnya, dua raja memerintah atas rakyat yang tetap satu. Sejak itu pulalah raja Tallo dan keturunan pengganti baginda pada lazimnya diangkat menjadi pabbicara butta atau mangkubumi Kerajaan Gowa.
Pabbicara butta atau mangkubumi Kerajaan Gowa yang merangkap menjadi raja Tallo dan yang terkenal di dalam sejarah, antara lain ialah:
a. Karaeng Matoaya yang juga terkenal dengan nama dan gelar Sultan Abdullah Awalul Islam Tumenanga ri Agamana. la adalah raja dl Sulawesi Selatan yang mula-mula sekali memeluk agama Islam. Yang mengislamkan ialah Khatib Tunggal Abdul Makmur yang juga lebih dikenal oleh orang-orang di Sulawesi-Selatan dengan gelarnya Dato ri Bandang.
Ada tiga orang yang terkenal sebagai penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan. Yang pertama ialah Khatib Tunggal alias Dato’ ri Bandang. la bersama dua orang temannya lagi, yakni Khatib Sulai¬man yang juga terkenal dengan gelarnya Dato’ ri Patimang dan Khatib Bungsu yang kemudian terkenal pula dengan gelarnya Dato’ ri Tiro karena ia wafat di Desa Tiro. Khatib Tunggal alias Dato’ ri Bandang ini adalah seorang ulama yang berasal dari Kota Tengah di Minangkabau (Sumatra Barat). Oleh karena itu ia diberi gelar Dato’. Gelar ini berasal dari gelar orang-orang Minangkabau “Datuk”.
Karaeng Matoaya memeluk agama Islam pada tanggal 9 Jumadil awal tahun 1014 Hijrah atau tanggal 22 September 1605. Oleh ka¬rena baginda adalah raja yang mula-mula sekali memeluk agama Islam di Sulawesi Selatan, maka baginda mendapat gelar Sultan Abdullah Awalul Islam. Ia terkenal sangat taat pada agamanya (agama Islam). Oleh karena itu, setelah ia wafat pada tanggal 10 Oktober 1636 di Tallo, mendapat gelar Anumerta Tumenanga ri Agamana, artinya: raja atau orang yang wafat dalam agamanya. Ada juga yang menyebut Tumenanga ri Tappa’na, artinya raja atau orang yang wafat dalam kepercayaannya. Ialah yang berjasa mengajak kemenakannya yakni Sultan Alauddin raja Gowa yang ke-14 untuk masuk agama Islam.
Tidak lama kemudian agama Islam telah menjadi agama keraja¬an di Gowa. Sembahyang Jum’at yang pertama di Tallo diadakan pada tanggal 9 Nopember 1607 atau tanggal 19 bulan Rajab, tahun 1016 Hijriah. Setelah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo menjadi Kerajaan Islam dan raja-rajanya telah memperoleh gelar sultan, kedua Kerajaan itu menjadi pusat penyebaran agama Islam di seluruh daerah Sulawesi Selatan. Dalam hal ini Karaeng Matoaya ,alias Sultan Abdullah Awwalul Islam, raja Tallo yarng ke-6, merangkap sebagai tumabbicara butta Kerajaan Gowa, sangat besar sekali jasanya.
b. Karaeng Pattingalloang, raja Tallo yang ke-8 yang menjabat pula sebagai pabbicara butta Kerajaan Gowa pada zaman pemerintah¬an raja Gowa yang ke-15 bernama Sultan Muhammad Said Tumenanga ri Papambatunna.
Karaeng Pattingaloang terkenal sebagai seorang yang cendekia dan menguasai serta mahir berbahasa beberapa bahasa asing. Karaeng Pattingaloang terkenal pula dengan nama dan gelar baginda Sultan Mahmud Tumenanga ri Bontobiraeng.
Pabbicara butta biasa pula menjadi wali dan pemangku raja jikalau putra. mahkota atau raja masih belum mencapai usia untuk me¬megang sendiri tampuk pemerintahan. Pabbicara butta mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang besar sekali. Jikalau raja belum men¬capai usia dewasa, maka pabbicara buttalah yang memerintah atas nama raja Gowa. Pada rnulanya jabatan pabbicara butta diadakan ka¬rena putra mahkota atau raja Gowa masih belum dewasa. Kemudian jabatan pabbicara butta tetap ada meskipun raja sudah dewasa dan memegang sendiri pemerintahan. Tugas pabbicara butta di dalam ba¬hasa Makasar sering pula disebut “MabbaIigau” artinya membantu (raja Gowa) memerintah atau pasangan dalam memerintah. Demi¬kianlah sejak dari batara Gowa menjadi raja Gowa ke-7 dan Karaeng Loe ri Sero menjadi raja Tallo yang pertama raja-raja Tallo selalu menjadi Baligau (patih) raja Gowa.
2. Tumailalang Towa. la adalah seorang pejabat atau pembesar kerajaan yang menyampaikan dan meneruskan segala perintah raja Gowa kepada bate salapanga, kepada para kepala distrik atau kepala wilayah, kepada para bate anak karaeng dan lain-lain. la menjaga pula agar supaya segala perintah raja Gowa dilaksanakan sungguh-sungguh. Ia sering pula memimpin sidang-sidang yang diadakan untuk membicarakan soal-soal yang sangat penting sifatnya. Tumailalang towalah yang menyampaIkan kepada sidang tersebut segala kehendak dan titah raja Gowa. Segala keputusan, saran-saran atau pesan-pesan raja Gowa disampaikan oleh tumailalang towa.
3. Tumailalang Lolo. Pejabat atau pembesar kerajaan ini selalu berada di dekat raja Gowa. Beliau inilah yang menerima usul-usul dan permohonan untuk disampaikan kepada raja Gowa. Ia menerus¬kan segala perintah raja Gowa mengenai soal-soal rumah tangga is¬tana. Di dalam masa perang beliau sering bekerja bersama dengan panglima pasukan-pasukan Kerajaan Gowa yang disebut “anrong¬guru-lompona-tumak-kajannangnganga”. Mereka sering membicarakan dan merencanakan segala soal yang bersangkut-paut dengan soal peperangan.
Jabatan tumailalang towa dan tumailalang lolo diangkat dan di¬pecat oleh raja Gowa. Ada juga yang mengatakan bahwa tumailalang towa dan tumailalang lolo yang menghubungkan secara timbal balik antara pemerintah atau raja Gowa dan rakyat Gowa yang diwakili oleh bate salapanga.
Dahulu kedua fungsi itu dipegang oleh pacallaya, lalu oleh Tumailalang (orang yang di dalam). Jadi mula-mula tumailalang yang menggantikan kedudukan paccallaya hanya ada satu orang saja. Kemudian dijadikan dua orang, yakni tumailalang towa dan tumai¬lala lolo. Fungsinya pun dipecah menjadi dua, yakni : Hubungan dari raja Gowa ke bate salapanga dipegang oleh tumailalang towa se¬dang hubungan dari batesalapanga ke raja Gowa harus melalui tu¬mailalang lolo. Jadi dengan demikian bate salapanga dapat disamakan .dengan parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat.
4. Bate Salapanga. Seperti yang sudah dikatakan tadi, lembaga Ini terdiri dari sembilan orang anggota. Tiap anggota bate salapanga adalah kepala pemerintahan di wilayah yang merupakan federasi Gowa. Dahulu Gowa merupakan suatu federasi yang terdiri dari sembilan buah negeri atau daerah. Tiap-tiap negeri atau daerah itu di kepalai oleh seorang penguasa yang merupakan raja kecil. Sembilan orang penguasa itulah yang mula-mula menjadi anggota Hadat Gowa yang disebut Bate Salapanga. Ketua dari bate salapanga disebut pacallaya.
About this entry
You’re currently reading “Sistem Pemerintahan Kerajaan Gowa (2),” an entry on Sejarah Kesultanan Gowa
- Telah Diterbitkan:
- Desember 6, 2008 / 9:26 am
- Kategori:
- sejarah gowa
- Kaitkata:
- kesultanan gowa, sistem pemerintahan
No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]